Cinta Bukan Alasan untuk Lupa Diri

Cinta Bukan Alasan untuk Lupa Diri

Cinta adalah bagian dari emosi manusia, banyak manusia yang menginginkan cinta—sesuatu yang menggoda, ada manusia yang ingin dicintai dan ada juga manusia yang ingin mencintai orang lain. Berbicara tentang cinta memang tak pernah ada habisnya, seperti membuang-buang waktu untuk menghitung banyak nya bintang di langit malam yang kelam. Bahkan ketika tulisan gak jelas ini diketik banyak manusia yang sudah salam paham tentang arti cinta, tujuan adanya cinta di dunia ini, serta peran cinta dalam menciptakan kebahagiaan di hati manusa.

Seiringnya waktu berlalu cinta sudah menjadi kebutuhan primer, dan hubungan yang melibatkan cinta juga sudah berkembang sangat jauh, hubungan yang disebut “berpacaran” contoh kecilnya, banyak sekali polemik yan dihasilkan oleh hubungan manusia satu ini, salah satu contohnya adalah lupa diri. Kenyataan nya banyak sekali orang yang berpacaran tetapi bisa lupa diri, hanyut akan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan. Ketika seorang pemuda sedang berduaan dengan sang pujaan hati hingga lupa akan kewajiban nya yaitu sholat, atau seorang wanita yang lupa akan kewajiban nya untuk beribadah ke gereja adalah salah satu bukti bahwa cinta bisa saja membuat pecandunya lupa diri, yang dimaksud “lupa” disini bukan tidak ingat melankan mengingkari diri. TAPI! Sebenarnya itu bukanlah alasan untuk menyalahkan cinta, hanya saja banyak manusia yang suka berdalih bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah kesalahan dari sesuatu yang terjadi sebelumnya.

Mari kita coba menjadi manusia yang pragmatis, ketika kamu sedang terlibat dengan cinta jangan sampai kamu tertelan oleh emosi yang menyesatkan, contohnya saja ketika seorang wanita yang tak kunjung bisa mendapatkan pria yang dicintainya hingga dia berani berbuat kekejian seperti merusak hubungan si pria dengan wanita lain, itu bukan bagian dari emosi manusia yang disebut “cinta”, seharusnya dalam kondisi tersebut wanita yang sangat berambisi namun terlanjur putus asa itu seharusnya paham bahwa realita sudah berjalan sesuai algoritma nya sendiri, langkah yang harus diambil adalah ikhlas dan pasrah, itu adalah bagian dari cinta, walaupun kenyataan nya melakukannya lebih sulit dibanding menghilangkan permen karet yang lengket di sepatu.

Mencintai manusia adalah mencintai Tuhan dan mencintai Tuhan adalah perwujudan dari cinta yang konkrit. Ketika kamu mencintai manusia, artinya kamu meletakkan perasaan tulus padanya, tanpa memandang siapa dia, ras apa dia, berapa penghasilan nya, atau kapan dia akan mati, yang ada dipikiran kamu adalah kamu ingin bersamanya selama, sederhananya itu adalah bukti bahwa kamu bisa menghargai karya ciptaan Tuhan yang mega dahsyat itu. Sebenarnya cinta bukan saja bisa diberikan pada orang yang menyandang gelar “kekasih” tetapi juga pada orang yang menyandang gelar sahabat atau juga keluarga. Nah mari kita langsung ke intinya, banyak orang yang mengeluarkan suara seperti “aku mencintai mu apa adanya” pada seseorang yang dicintai nya namun dia melalaikan apa yang Tuhan larang, ketika kamu mengatakan “aku mencintaimu” pada seseorang sambil bersetubuh dengan nya dalam status masih berpacaran artinya kamu sudah lupa diri, itu bukan hakikat cinta yang sesungguhnya, kayaknya kamu sudah salah paham seharusnya kamu mengucapkan “aku sangat bernafsu pada mu”. Jika kamu mencintainya seharusnya kamu menjaganya agar tetap “bersih” dengan begitu kamu bisa menghargai ciptaan Tuhan dan membuktikan arti dari cinta.

Ada yang menggelitik saat seseorang dengan status teman ingin berkencan dengan pacarnya namun apa daya dirinya tidak diperbolehkan orang tuanya untuk keluar rumah, dan cerdik dirinya menipu orang tuanya, yah aku tidak tau apa yang diucapkan nya tetapi aku tau bahwa dia sudah menipu orang tuanya hanya demi mengajak sang pacar kencan, benarkah tindakan seperti itu? Tentu saja salah, ini adalah salah satu ciri orang yang lupa diri—durhaka pada orang tua, mengapa dia melakukan hal yang bisa menodai harga dirinya? Semuanya demi pacar tercinta, ini adalah ciri orang yang lupa diri, dia lupa siapa dirinya yang seharusnya tidak melakukan hal kurang ajar begitu. Lagi dan lagi, pasti didasari oleh cinta, apanya yang cinta.

Kini kita beralih ke pengorbanan, bicara pengorbanan tak sedikit manusia yang rela melakukan segala sesuatu demi membantu orang lain, tak terkecuali diriku juga pernah berkorban demi diriku sendiri bukan orang lain ya. Ada dua jenis pengorbanan, yaitu pengorbanan yang dilakukan dengan ketulusan hati, dan pengorbanan yang tak pantas disebut pengorbanan karena dilakukan tidak dengan ketulusan. Benarkah pengorbanan yang dilakukan dengan tulus sudah pasti benar? Jawabannya tidak, apa yang terjadi jika kamu sedang bokek dan kekasih mu membantu mu dalam hal finansial, sayang nya dia sendiri juga bokek, dan sayang nya lagi karena rasa cintanya yang besar dia melakukan sesuatu yang tak seharusnya dia lakukan contohnya dia menjalankan usaha yang kotor atau berbuat kriminal demi kamu, lagi dan lagi didasari oleh cinta, padahal tidak sesederhana itu, itu adalah contoh orang yang lupa diri, dia tidak sadar bahwa dirinya tidak seharusnya melakukan kejahatan demi ketulusan, ada beberapa hal bisa menjadi pengecualian jika dilihat dari sudut pandang yang terbalik, tetapi bagaimanapun yang nama nya kejahatan tetaplah kejahatan.

Banyak kasus di mana manusia mengingkari dirinya atau lupa diri hanya demi cinta, aku tidak tau bagaimana definisi cinta menurut mereka, tetapi mencampuradukan cinta dengan sikap yang mengingkari diri bukanlah pilihan yang tepat. Cinta seharusnya menjadi sesuatu yang membuat kamu bahagia, sesuatu yang murni dan suci, yang bisa membuat kamu lebih dekat dengan Tuhan, yang bisa membuat kamu lebih memahami dan mengasihi orang lain, bukan sesuatu yang bisa membuat kamu tersesat.

Yang dimaksud lupa diri di sini adalah kondisi di mana kamu tidak paham apapun tentang dirimu sebagai manusia, hal-hal yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan. Untuk menghindarinya selalu berpegang teguh pada ajaran Tuhan, tak perduli apapun agama dan dari sekte manapun kamu berada, suatu ajaran kebaikan tidak mungkin menuntun umatnya menuju jalan keburukan.
Sebenarnya banyak hal yang perlu saya ketik, apa daya blog ini adalah blog tidak jelas, begitu juga dengan postingan nya yang tidak jelas, semoga dengan ketidakjelasan ini bisa menjelaskan bahwa sifat lupa diri bukan bagian dari cinta.
Selanjutnya
« Sebelumnya
Sebelumnya
Selanjutnya »
Silakan pilih sistem komentar Anda ⇛   

0 Komentar di "Cinta Bukan Alasan untuk Lupa Diri"

Berkomentarlah dengan bijak dan relevan, hindari hal-hal negatif seperti sara, rasis, atau membagikan url pornografi/malware.

Emoticon

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel